Bulan baru disambut dengan dinginnya hujan diluar sana, rintik seolah menandakan akan adanya keputusan yang akan diambil, apakah harus pergi keluar menerjang hujan atau tetap menunggu hujan yang memutuskan? kita seperti bertaruh siapakah yang akan basah diantara aku atau bumi? entahlah semua harus segera diambil keputusan yang tepat dan bijak. Biarkan hujan turun dan aku tetap diam? semua itu tak penting jika kita harus menuntut kesempurnaan. Basah sekujur tubuh akan terasa tidak nyaman jika terlalu lama... namun tujuanmu sudah dicapai, diam merasa aman dari jatuhnya rintik hujan di tubuh akan tetapi kau tidak mendapat tujuanmu karena takut akan basah tubuh ini.. semua adalah pilihan.
Mulai terpikirkan bahwa biarkan hujan berlalu dan aku membuat secangkir kopi menikmati indahnya hujan yang berlalu. Teringat bahwa apakah ukuran kecantikan dan kesempurnaan adalah kriteria ideal dari seorang wanita? mungkin banyak yang tidak setuju, bahkan aku pun sependapat. Melihat merupakan anugerah yang tak ternilai, apapun akan kita lihat, baik buruk, pemandangan serta warna-warni dunia begitu mengagumkan, bahkan kita pun merasakan perasaan itu. Saat itu aku menyadari bahwa secangkir kopi ini pun akan habis, ya sesuatu memang sesuai dengan apa yang dibutuhkan, saat kita membuat secangkir kopi maka secangkir kenikmatan itulah yang akan dirasakan dan dinikmati, namun berbeda saat kita membuat secangkir kopi lagi, berbedanya perasaan saat pertama dengan yang kedua sangat berbeda, begitulah wanita yang diibaratkan dengan secangkir kopi, akan nikmat saat pertama kali dirasakan dan dinikmati.
Mungkin orang akan berkata seperti ini, "kamu bisa merasakan bagaimana wanita itu, jika kamu memiliki hatinya" apakah kamu bisa merasakan saat wanita itu terluka setelah kamu menyakitinya? lalu mengapa kita masih berani untuk menyakitinya atau sebaliknya, mengapa wanita begitu gampang menyakiti hati seorang pria? haha mungkin akan terdengar aneh, tapi masuk akal menurutku, mengapa kita sama-sama saling menyakiti hati kita padahal kita sama-sama pernah saling mencintai dan menyayangi?
Saat pria jatuh cinta dan menyayangi seorang wanita, dia akan merasakan bahwa hatinya akan terpenuhi oleh dunia ini, kesenangan dan ketentraman hanya sebagian kecilnya. Namun saat wanita mencintai seorang pria yang dia rasakan adalah pria tersebut akan menjaganya kelak sebagai pengganti sang ayah. Bagaimana jika salah satunya menyayangkan bahwa hati ini bisa saja ternodai oleh ketidakpuasan dunia yang fana, sehingga satu sama lainnya saling menyalahkan. Hal ini tidak akan baik jika terlalu lama larut dalam EGO, akhirnya sang pria akan memahami apa yang dibutuhkan oleh wanita. Sang pria akan menjadi imam (pemimpin) sedangkan wanitanya menjadi makmum (mengikuti), pria sadar bahwa kesempurnaan wanita tidak terletak pada paras wajah maupun tubuh yang sempurna, namun hati yang lembut, penyayang, kuat, serta pemberani. Sang wanita pun demikian melihat si pria, berani, berhati baik/lembut, penyayang dan mampu melindunginya.
Sangat mengagum jika kedua hal (pria dan wanita) itu saling memahami. Hati ini mulai bertanya kembali, sebegitukah "Anggun"nya seorang wanita? ya mungkin hanya satu hal yang menjawab semua pertanyaan, secantik apapun wanita dan sesempurna apapun bak bidadari dunia ini, namun jika dia (wanita) tidak "Anggun" dimata sang pria maka dia bukan milik sang pria tersebut, mungkin sang pria akan jauh meninggalkannya (berpaling) dan mencari dunia yang dapat memenuhi hatinya. Lagi-lagi paras tidak menjadi penghalang, dia (pria) hanya mencari seluruh dunia masuk dan memenuhi hatinya (wanita).
Sekarang pertanyaan mendasar ada pada dirimu, mengenal walau hanya sebentar atas ijinNya, menyadari bahwa diriNya memiliki ciptaan yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang serta anugerah (Fitrah) yang ada sejak lahir, kita bertemu dalam ruang yang sangat sempit entah waktu memang sengaja membuat cemburu para malaikat di langit serta penduduk bumi, entah itu adalah RahmatNya atau sebuah Kekhilafan antara kita sebagai manusia yang hanya bisa kita nikmati secara singkat mungkin tanpa restuNya. Menjauh dan ketidakjujuranmu menunjukkan bahwa rahmat yang turun diantara kita memang belum mendapat RestuNya, atau mungkin diriku yang terlalu egois, bahwa kita bisa menjalani rasa sayang dan nyaman untuk waktu yang lama, namun apalah daya Sang Pembolak balik hati yang memiliki kuasa di hatimu sehingga dirimu tidak mengatakan yang sebenarnya.
Aku menyadari semua adalah KuasaNya, bukan kuasa diriku jika saja kita sama-sama menyadarinya dari awal keadaan akan lebih baik, namun maaf dari diriku untuk dirimu, memang awal pertemuan dirimu begitu "Anggun", semua hal aku mengagumi dirimu merasakan bahwa hati dapat memenuhi hati ini, mungkin kesenangan sesaat tidaklah baik jika diungkapkan terlalu berlebihan, inilah hati mudah berubah. Ya mulai sekarang aku harus sadar, ada saatnya keinginan dua insan haruslah sama saat ingin menjadi satu (dipersatukan), jika tidak hanya angan yang kosong belaka. Saat itu keingin kita berdua berbeda, dirimu ingin sesuatu yang indah nan bahagia namun kau tidak ingin mengotorinya karena dirimu sadar menjadi bidadari surga tidaklah mudah, dirimu ingin bahagia bagaikan bidadari surga bukan sebagai bidadari di dunia, berbeda dengan diriku yang ingin sesuatu mengalir saja, layaknya sungai yang mengalir dibumi bukan disurga, sadar bahwa sungai di bumi bisa saja tercemari sedangkan surga tidak, ketidaksamaan keinginan ini membuatku paham arti dari rahmat itu sendiri. Rahmat itu suci dan juga bersih tak ada noda didalamnya.
Pesanku untuk dirimu yang mungkin telah atau sedang dalam mencari rahmatNya, semoga dirimu tetap "Anggun" dimataku, jangan kau nodai sesuatu hal yang ingin kau dapatkan hanya dirimu resah jika rahmat itu belum juga turun atau rahmat itu sendiri yang ingin mengujimu, apakah kamu bersabar atau kamu terbawa ejekan setan? sadarlah dirimu sebenarnya "Anggun", entah mungkin orang yang masih cinta akan selalu terngiang hal indah-indah, namun diriku berbeda, hanya sebentar mengenali dirimu aku tahu ada kelembutan yang memang bidadari surga miliki, namun akan jadi hal yang buruk jika kamu merusak rencanaNya hanya karena dirimu gelisah pada Tuan yang tak Bertuhan, sebanyak apapun kamu mengharapkan dari manusia pada Tuan yang tak Bertuhan maka akan rusak "Keanggunan" yang ada pada dirimu.
Hal itu membuat aku sedih, marah, dan memaki-maki dirimu sejadi-jadinya ya itulah manusia jika dikecewakan hatinya, karena hatinya bukan marah karena dirimu menolak hati seorang pria kecil ini, namun dirimu terlalu berharap pada Tuan yang tak Bertuhan setiap harinya, membuatku jadi bertanya kembali apakah kamu benar-benar ingin menjadi bidadari surga atau bidadari dunia?
** Mungkin keanggunan bukan perkara yang mudah dicari didunia ini, namun hati yang kuat nan suci dapat menemukannya walaupun paras dan kesempurnaan yang ada didunia ini menyilaukan, tapi hal itu dapat dilihat seberapa besar, lembut dan suci hatimu.