Sabtu, 27 Februari 2016

Kita Baru Kenal Bukan?

      Pernah kah lu berfikir bahwa sesuatu yang dipertemukan pada akhirnya harus berpisah? sebagian orang berkata hal itu hanya ditulis dari seseorang yang putus asa/patah hati, gue berharap orang yang menulis itu dalam keadaan yang sangat sadar hehe, coba banyangkan jika orang yang putus asa/patah hati tidak akan memakai logikanya saat itu, tapi lebih banyak merenungkan kesedihannya menurut gue hal ini bukan disebut sebagai tulisan putus asa/patah hati melainkan sebagai motivasi. banyak hal yang kita temukan diawali oleh sebuah pertemuan...

     Pertemuan bukan hal buruk menurut gue, saat gue pertama kali masuk sekolah dasar pasti akan terasa berat dengan apa yang gue hadapi untuk pertama kalinya, selama 6 tahun lamanya gue berada di sana sudah saatnya pergi/berpisah dengan masa-masa itu... awalnya sedih, entah mengapa dunia yang penuh kesenangan harus beralih ke dunia yang tidak begitu menyenangkan, bertemu sekolah baru, teman baru, guru baru serta lingkungan yang baru pula. Begitu seterusnya sampai kita memasuki dunia yang amat sibuk dan tanggung jawab yaitu dunia kerja. Kadang benak selalu bertanya, kita baru kenal bukan? tapi kenapa hubungan pertemanan dan hubungan sosial ini begitu menyenangkan, dilahirkan ditempat berbeda tidak menjalani kehidupan bersama-sama sewaktu kecil tapi kita bertemu dalam suatu momentum yang begitu indah dalam sekejap... Wuuussh seperti angin saat sore hari dimana hari tidak hujan namun awan kembali menampakkan kesedihannya, itulah sebuah pertemuan, kadang kita menyadari suatu hari akan datang kata perpisahan.

    Pertama gue engga mau cerita tentang kisah cinta apalagi kisah romantisme dari diri gue, hmm setiap orang punya rasa dan perasaan dalam menikmati momen tersebut, jika gue ceritakan hal yang indah mungkin menurut orang akan biasa saja, yap itulah kisah masing-masing orang punya caranya untuk diungkapkan. Kembali apakah alur cerita yang ingin gue ceritakan adalah romantisme? kisah cinta? sebuah kisah cinta diantara sahabatnya? atau cerita tentang indahnya jatuh cinta itu sendiri? gue bukan orang yang memiliki kisah cinta yang bagus apalagi memiliki sisi romantis di hati. Gue adalah gue, tidak ada yang menggantikan gue di dunia ini, apalagi cerita ini mungkin akan dianggap sampah tapi juga tambang emas semua orang punya pendapat yang berbeda dalam sebuah cerita.

     Pertemuan yang paling gue senang adalah bertemu dengan teman baru, kadang jika kita memiliki kecocokan dalam hobi makan akan semakin "klop" (nyambung) arah pembicaraan kita, was wes wos apapun dibicarakan, melupakan waktu sambil merangkap makan adalah hal yang wajar diawal pertemuan kita. Indah dan senang, itulah pertemuan pada saat gue diangkat menjadi ketua dalam kelompok, hal ini wajar jika ditunjuk menjadi ketua padahal gue engga punya apapun yang ditonjolkan, secara fisik gue engga sekuat dan segagah cowok-cowok lainnya di dalam kelompok gue tapi mungkin mereka melihat bagaimana gue bisa membawa kelompok ini menjadi baik, yaa itulah kepercayaan dari anggota kelompok. Pada akhirnya itu hanya bersifat sementara, sebentar dalam artian luas, gue merasa senang saat itu karena gue adalah orang yang mereka tunggu menjadi pembicara utama dan mengayomi mereka... waktu pun seperti memberikan porsinya sendiri ke gue, hanya untuk ketua sebentar dalam waktu tertentu.

       Kelompok dalam acara Pelantikan di tingkat Fakultas itulah gue berposisi sebagai ketua (cadangan), sebagian temen-temen di kelompok gue merasa ketua sebelumnya tidak mengayomi dan tidak bertanggung jawab, entahlah gue merasa kalo itu hak anggota kelompok untuk bersuara dalam satu forum, antara rasa takut, sedih dan tidak peduli... kegiatan pelantikan tidaklah wajib, tapi dituntut untuk menjadi kelompok yang bertanggung jawab. Kadang hal yang terfikirkan oleh gue saat itu adalah ketua adalah tumbal, yaa tumbal untuk yang mengkordinir dan sebagainya.. tapi nikmati hal itu bro, ingat! itu hanya sebentar ada jangka waktunya, setelah kegiatan itu? haha kita akan dianggap biasa saja, begitu juga dengan ketua praktikum, laporan serta kelompok di dalam organisasi lain.

      Pertemuan dengan teman sehobi dan senasib serta sepenanggungan, kita punya rasa ingin bersama-sama... kemanapun tetap bersama merasakan kenyamanan tiada tara, bahagia dan senang menjadi satu rasa saat itu. Lagi kembali teringat... kita baru kenal bukan? yaah itulah pertemuan, semakin sering bertemu dan bersama akan saling mengerti. Awalnya bukan siapa-siapa, berawal dari kelompok yang kecil menjadi besar, besar bersama dengan nasib, susah senang dilalui bersama... masalah ditanggung bersama dan menjadi terasa hangat jika mendengar kata "ah udah kayak siapa aja, kita kan keluarga", haha kata yang paling menyejukkan hati, tidak ada kecurigaan hanya ada rasa saling percaya satu sama lain.

         Ingat dalam dunia ini bukan semua yang ditemui itu berakhir senang dan indah, pasti kita mengalami sesuatu perpindahan rasa tersebut. Bumi nampaknya memberitahu gue bahwa sesuatu harus dipahami sejak dini, terlena akan membuat kita jatuh dilubang yang sama dan jurang yang dalam. Akan datang masa dimana tempat atau lingkungan yang kita diami/tinggali ini kita akan berpindah ke tempat yang berbeda? masa-masa kuliah pun berganti masa orang dewasa, pekerjaan adalah hal yang pasti didapat... berbeda bagi mereka yang memiliki keinginan untuk melanjutkannya lagi. Rasanya kemarin saja kita bertemu.. sekarang harus berpisah, hanya rasa kangen untuk kembali ke masa-masa itu dengan cara berkumpul kembali adalah jawabannya. Tapi cerita ini bukan untuk menceritakan bagian "Happy ending" dari sebuah persahabatan ataupun kisah cinta, melainkan sebuah cerita yang ingin disampaikan oleh gue tentang kebahagian.

      Kebahagian gue adalah melihat teman ataupun sahabat gue senang dan bahagia, saat berkumpul kembali menceritakan momen dimana hal senang, sedih, serta memalukan kembali diceritakan untuk bernostalgia, hmm rasanya damai saat hal itu diceritakan dengan lengkap dan kita menikmati setiap detail momen tersebut dengan rasa bahagia dan tentram. Maaf untuk hal itu gue merasa kebahagian bukan selalu mengenaik hal yang menyenangkan, saat lu merasa harus pergi dari keluarga baru yang menurut gue adalah penyebabnya merupakan hal yang logis... hehehe gue merasa menulis tidak dengan rasa putus asa/patah hati karena tidak banyak teman yang mengajak gue untuk sekedar makan es krim di pinggir jalan, tapi gue merasa kadang jika pertemuan tidak pernah terjadi hanya karena sebuah alasan "hal itu hanya membuang waktu dan tidak bermanfaat", menurut gue keputusan untuk pergi dan tidak kembali lagi, yaa karena gue tau hal bermanfaat tidak akan dibuang di tempat yang tidak nyaman, melainkan ditempat yang nyaman.

     Semoga kenyamanan yang pernah kita buat di 35hari lalu menjadi awal momen yang baik, haha gue bukan ketua loh waktu itu tapi merasa menjadi tokoh antagonis dalam sana, hmm ada hal yang sebenarnya menyedihkan jika kalian bisa menyadari kenapa waktu itu menjadi suasana yang indah atau pun sekedar menjadi neraka dalam sebuah kelompok? hanya masing-masing dari kita yang bisa menjawabnya, yaa bahagia bersumber dari diri kita, saat tidak bahagia jalan terbaik adalah mencari kebahagiaan itu sendiri atau jadilah kebahagian itu sendiri.

   Harapan terbaik dari cerita ini adalah gue merasa sedikit bahagia, ya karena gue bahagia diantara hari-hari yang lainnya tidak ada gue lagi disana, gue akan cari dan meninggalkan kebahagiaan itu untuk  kebahagiaan teman ataupun sahabat gue. Jadilah kebahagian itu sendiri atau cari kebahagian itu sendiri.

-GoodByeRogo-

Sabtu, 20 Februari 2016

Dua sisi

     Ada sebuah pertanyaan kecil dalam keseharian kita, namun akan sulit dipahami jika hanya dijawab dengan sebatas ilmu yang kita dapat, melainkan harus memiliki wawasan serta pengalaman yang baik pula untuk menjawabnya. Setiap diri kita dilahirkan menjadi pemenang, tidak akan ada satupun menjadi pecundang.. bagaimana bisa? lihat sekeliling kita banyak mana diantara golongan yang susah atau kaya? jika kita hanya memakai ilmu saja mungkin kita akan terus membandingkan bagaimana menentukan suatu kriteria dari golongan yang susah maupun kaya, tapi jika kita menggunakan wawasan serta pengalaman, pastilah tidak ada kata yang bernama "Pecundang".

      Dua sisi dari kedua golongan itu hanya sebatas kata istilah, sebuah pembatas untuk menentukan mana golongan terbaik.. tapi selebihnya di mata Tuhan YME semua itu sama. Jika kita memiliki koin apakah koin tersebut memiliki satu sisi? jelas jawabannya tidak, bagaimana dengan dua jenis kelamin yang hidup dibumi apakah hanya ada jenis saja? jelas sekali tidak. Tidak mungkin kedua hal tersebut hanya memiliki satu sisi/jenis melaikan memiliki perbedaan (minimal 2 hal), coba kita berfikir bagaimana mungkin koin yang kita gunakan sebagai alat pembayaran hanya meliki satu sisi dan jenis manusia yang hidup di bumi hanya ada satu jenis? jika menjawab dengan ilmu saja jelas tidak akan cukup, melainkan dibutuhkan wawasan serta pengalaman (pengetahuan). Semua hal bisa kita rekayasa untuk menjadikan sesuatu sesuai yang diinginkan, tapi pada kodratnya semua telah di atur oleh-Nya.

       Pecundang merupakan istilah yang digunakan oleh manusia sendiri, untuk melabelkan dirinya tidak berguna/gagal, sebaiknya tidak ada kata pecundang melainkan kata tidak bermanfaat. Entahlah bagaimana jika kata pecundang disematkan sedangkan kita sebagai manusia yang telah terlahir ke dunia ini? jawabannya hanya satu istilah/kata tersebuh hanya merendahkan bukan memberikan semangat. 

       Saya akan menanyakan bagaimana kita bisa disamakan dengan seekor binatang hanya karena satu sifat dari kita yang persis dengan binatang tersebut? jawabannya bisa saja sebab kita sebagai manusia memiliki akal (berfikir) dan otak (ilmu) sedangkan binatang hanya otak (ilmu). Kita dapat mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan kehidupan baik manusia dengan binatang, namun kita tidak mungkin bisa mensamartakan kehidupan kita dengan binantang. Manusia hidup dengan pakaian sedangkan binatang tidak, semua itu adalah moral dari setiap makhluk hidup dan kita harus mempertahankannya. 

         Kadang menjadi baik serta buruk ibarat koin yang memiliki dua sisi, saat kita menjadi khilaf (lupa/mengikuti hawa nafsu) maka sifat buruk akan muncul sedangkan jika kita sadar (dekat dengan Sang Pencipta) maka akal dan otak kita akan menjadi jernih baik perilaku serta kebiasaan akan menjadi baik. Kedua sifat tersebut melekat pada manusia bukan pada binatang. Binatang hanya memiliki naluri dari binatang tersebut, jika dia ingin makan (binatang karnivora) maka dia akan berburu serta hidup layaknya di alam liarnya.

          Memang segala sesuatunya masih terlihat dengan samar-samar baik opini maupun fakta di kehidupan ini. Era modern membuat manusia berkembang menjadi sangat cepat serta pintar, namun perlu diketahui ilmu saja tidak cukup melainkan dibutuhkan pengetahuan (wawasan dan pengalaman) untuk menjalankannya di kehidupan sehari-hari. Entahlah haruskah mengeluh jika banyak permasalahan-permasalahan yang memang sebenernya sudah ada contohnya namun dibiaskan oleh satu opini, berbahaya kah? jelas akan sangat sangat berbahaya. Berbahaya karena hal yang buruk menjadikan hal yang baik, hal tersebut akan terjadi sebaliknya. 

             Jika kita selalu belajar dari masa lalu (sejarah), maka perdebatan atau permasalahan mungkin akan menemui titik terang. Saya sangat yakin terbentuknya suatu negara tidak lepas dari perjuangan dua jenis manusia, laki-laki dan perempuan serta adanya agama sebagai landasan utama terbentuknya jati diri suatu bangsa. Bagaimana mungkin negara terbentuk hanya karena dari satu sisi/jenis saja yang berjuang? jawabannya tidak akan bisa.

#DuaSisi #SelamatKanBangsaKu

Senin, 08 Februari 2016

Terasa singkat

   Awal tahun disuguhkan dengan berbagai pengharapan, baik yang memiliki harapan kecil sampai yang besar.. aku memiliki harapan besar di tahun ini, harapan mendapatkan gelar S1 mungkin bagi sebagian orang bangga, dan sebagian lagi meremehkan tapi semua opini itu hanyalah semu.. ya karena setelah lulus kembali menjadi nol (0), tak ada istimewanya hanya sebuah gelar yang terpampang di belakang nama.

   Singkat rasanya, belum genap tapi sudah di ujung perjuangan ya entahlah kembali ke niat, merantau bukan pilihan begitu juga belajar.. banyak orang tua yang menyuruh anaknya belajar untuk kehidupan yang lebih baik, tapi nyatanya belajar dan merantau menjadi pilihan bagi sebagian yang ingin mendapatkan ilmu. Jadikan sesuatu itu menyenangkan, biar pahit tapi nikmat seperti teman-temanku menikmati kopi di pagi harinya. Tak terasa teman silih berganti, baik dari atas maupun dibawah, kita tidak mungkin berdiam diri.. semua bergerak tidak ada yang diam, jika diam maka semuanya kacau.. terpental entah kemana. 

  Hanya ada dua pilihan, melakukan hal positif atau menjadi sampah!, memang saat ini aku masih jauh dari kata berguna, bahkan titik ini aku hampir menjadi sampah.. banyak menghasilkan tapi tak berguna.. haha mungkin aku harus bangkit, kadang bangkit tidak semudah jatuh.

   Berlalu setiap harinya, rasanya sebentar tahun-tahun tidak lagi mudah diingat dengan mudah, hanya beberapa kenangan dan momen yang menarik yang hanya terekam, selebihnya entah menguap begitu saja. Kadang semua berlalu dengan baik dan kadang juga tidak, sebaiknya memulai dengan baik lagi agar semua berjalan baik-baik saja.

   Semoga tahun ini menjadi momen terbaik, pergi dari momen buruk menuju tempat yang baru.. merantau adalah tujuan dari segala hal yang ingin dicari... baik ilmu, pengetahua/wawasan, teman, sahabat, keluarga bahkan bisa jadi menetap disana.

Sabtu, 06 Februari 2016

Badai pasti berlalu

   Hembusan angin yang kencang malam itu seakan membuat takut bagi sebagian orang, tapi beberapa diantaranya masih tetap berdiri di depan jendela, menyaksikan fenomena yang terjadi diluar sana. 
   Dahsyat! menggelegar petir yang menyambar.. entah ini sebuah kutukan atau hanya sekedar fenomena alam yang liar. Perasaan berkecamuk melihat keadaan yang terjadi, entah harus beranjak atau diam sampai cuacanya kembali normal. Sedikit fenomena yang terjadi jika datangnya badai, padahal ini baru terjadi di darat, bagaimana jika dilaut? entahlah mungkin melihat saja sudah membuat jantung copot, yang ada hanya berfikir dan bertanya dalam hati.. apakah aku akan selamat atau mati?!.

Kadang apa yang kita jalani seperti nelayan ikan dengan kapalnya yang besar pergi ke lautan untuk mencari ikan, ya ikan untuk menafkahi dirinya maupun keluarganya. Mungkin bisa jadi seperti petani yang pagi sebelum matahari naik, dia mulai menancapkan pacul dan kedua tangannya ke tanah, berulang kali, sampai merasa letih dan beristirahat. Senyum mewarnai kedua kejadian tersebut, yang satu mengharapkan ikan banyak dan satunya mengharapkan padi yang tumbuh menjadi bagus dan tinggi. Ada siang dan malam, kapan pun alam bisa saja datang dan pergi tanpa dikomando. Hembusan angin kencang dan cuaca yang tiba-tiba mejadi dingin serta gelap membuat senyum dan peluh menjadi berubah secepat hembusan angin itu.

     Badai pun datang menghampirinya, keduanya tidak tau harus berbuat seperti apa.. di laut beberapa nelayan ikan pun berhenti melakukan aktifitasnya, di darat sang petani langsung kocar kacir untuk segera kembali ke rumahnya, ya bisa dilihat kondisi ini tidak baik untuk keduanya, alam tak bisa dilawan, apalagi untuk di tantang. Setiap kesulitan harus dihadapi, entah dalam keadaan sesulit apapun atau semudah apapun, semua harus dihadapi.

    Malang nasibnya pagi sang nelayan ikan, alih-alih mencari ikan lagi untuk kebutuhannya, kemudia dia harus berhadapan dengan hidup atau mati di depannya, beratkah cobaan bagi sang nelayan ikan? angin di lautan tak bersahabat dengan siapa pun, ganas dan liar.. hujan pun datang dengan sang petir menggelegar, kilat pun ikut membantu suasana menjadi mengerikan, ombak mulai bergembira dan berpesta pora di lautan tersebut. Para awak terombang ambing di geladak kapal, mempertahankan layar agar tidak rusak, mesin pun dijaga agar tetap hidup serta air yang masuk segera dibuang kembali.. ya tujuannya untuk bertahan dalam kondisi tersebut. Ikan hasil tangkapan lalu bagaimana? entahlah yang mereka pikirkan hanya satu keselamatan dan kondisi kapal yang bagus.

Sambil memegang caping di kepalanya serta membawa cangkul dan rantang makanan.. lari dengan kekuatan sisa tenaganya wuuuussh! apapun diterjang.. dia tidak peduli rasa sakit di kakinya, benda apapun yang di injaknya, semua dia terjang agar terhindar dari badai. Badai membawa hujan dan hujan membawa petaka, bukan air yang sang petani takutkan melainkan berkumpul dengan keluarga lebih baik, ketimbang keluarganya yang mencemaskan dia. Sudah lupakan yang di ladang, biarkan tuhan yang menjaganya tugas dia sudah selesai saat itu, pikir sang petani. Hanya berharap akan kemurahan hati dari Sang Pencipta dan kerendahan hati dari alam, berharap padi yang dia tanami dapat tumbuh dan bagus hasilnya.

    Entahlah keduanya memiliki kesulitan masing-masing, diantara mereka tidak ada yang tau selamat atau tidak? bisa jadi yang di darat tidak ada ombak yang berpesta akan tetapi ketidakmujuran bisa menjadi petaka bagi sang petani, sedangkan sang nelayan ikan memang memiliki bahaya yang sangat dahsyat tapi bisa saja yang dia hadapi bukan padi yang entah nasibnya di tentukan oleh kerendahan hati dari alam. Semua ada resikonya, berat atau ringan semua harus dihadapi.. tidak ada yang lolos begitu saja tanpa ada resiko untuk menghadapinya.

     Badai pasti berlalu, kehidupan seseorang dipengaruhi oleh orang di sekelilingnya.. kita tidak akan lepas dari orang yang ada di sekeliling kita, entah dia hanya sekedar menyapa, rekan satu tim/kerja, teman seperjuangan saat sekolah, bahkan keluarga serta sahabat dekat, atau bisa jadi orang yang berada di daftar/kontak Hp kita. Hidup tidak ada yang tahu, masalah datang bukan berarti akhir segalanya, pasti dia berlalu.. entah menjadi masalah yang sudah usai atau semakin menjadi-jadi, ya bagai badai yang ganas, menyapu siapapun tanpa peduli itu manusia atau binatang.

    Badai pasti berlalu, akan ada sesuatu hal yang hanya lewat saja dikehidupan kita, mampir seperti pembeli rokok di warung atau sebagai pengamen yang menghidur walaupun lagu dan irama yang dia maikan tidak sesuai dengan hati kita, berlalu dan pergi tak usah dipikirkan buang saja seperti barang yang tidak terpakai, tetapi akan ada sesuatu hal yang datang memang ditakdirkan untuk bertemu dan bersama, yaa untuk mengisi kehidupan kita atau menjadi keluarga baru.. semua itu mungkin dan sudah ditakdirkan, hanya nasib yang katanya " bisa dirubah".

  Mencintai itu takdir, menikah itu nasib.. ya sajak Sujiwo Tedjo.. seperti badai pasti berlalu semua yang pernah kita cintai sudah ditakdirkan namun nasib yang membawa kita akan menikah dengannya atau dengan yang lain.....

Kamis, 04 Februari 2016

Masih sadarkah?

   Entah kenapa ketika waktu yang setiap harinya digunakan selalu penuh dengan rutinitas tiba-tiba berhenti.., haha tenang saja bukan berhenti dalam arti yang sebenarnya, melainkan istirahat (free). Kadang waktu yang kita gunakan terus menerus tanpa disadari membutuhkan istirahat, ya entah sekedar menghabiskan waktu seharian dengan teman, rekan kerja/penelitian dan lain-lain. Sadarkah jika kita sering melakukan aktifitas yang terus menerus akan menjadi lelah? iya terkadang kita butuh lebih dari sekedar kata menyukai pekerjaan/aktifitas itu sendiri, yaa kita butuh istirahat pastinya.. jika kita tidak istirahat pastinya akan terjadi ketegangan di semua aspek.

   Kembali dalam aktifitas, setiap harinya akan sangat bosan jika yang dilakukan sama.. mau gimana lagi, bagi aku yang sedang melakukan tugas akhir haruslah melakukan penelitian. Penelitian yang dasarnya akan menghasilkan hasil penelitian disebut data untuk menyusun skripsi. Pada dasarnya aku masih kebingungan dengan apa yang akan aku ingin dihasilkan di akhir, lagi-lagi terselamatkan oleh rekan satu tim. Persiapan yang panjang dan rumit (alias runyam) membutuhkan waktu dan energi yang besar. Setiap hari bahkan persiapannya hampir 5 bulan, lalu perlakuannya hanya dilakukan 3 minggu saja haha, kadang apa yang dipersiapkan lebih dahulu akan menghasilkan hasil yang tidak sesuai persiapan, tapi hal itu yang menyenangkan dalam melakukan penelitian.

   Masih sadarkah? iya aku masih.., entahlah teman satu tim kami kembali menjadi sosok yang linglung dan ambesia, mungkin karena kita bermain di dunia penuh alkohol dan ke sterilan? atau karena kejenuhan dan ego masing-masing, entahlah hanya kami masing-masing yang mengetahuinya. Memang dalam penelitian harus fokus, berbeda denganku yang tidak begitu fokus diawal. Why? soalnya dari awal aku sudah harus mengurus ini dan itu, entah karena ada urusan yang mendadak mau gimana lagi, dan aku paling engga melimpahkan sesuatu hal pribadi untuk diselesaikan ke orang lain, ya sebagai contohnya memperpanjang SIM haha.

    Kadang menghilang menjadi cara tebaik, yaa keluar dari zona kehidupan/rutinitas lalu kembali lagi, membuat otak dan raga ini seperti baru lagi hehe. Biarkan saja berfikiran yang aneh-aneh atau macam-macam, asalkan mereka bisa mengerti engga masalah, tapi ini menjadi masalah terbesarnya.. ya mereka menjadi tidak mengerti dan menjadi bumerang yang menyerang diriku. Tapi waktu kembali tidak adil kepadaku lagi, ya awalnya aku punya urusan yang niatnya baik tapi karena setan selalu berbisik ke telingaku dan timku maka terjadi yang namanya ego.

  Kembali teringat bahwa awal pada saat terbentuknya tim ini begitu indah dan damai, kami menyamakan presepsi, tujuan dan keinginan. Namun kembali lagi, bahwa hasil adalah segala-galanya, waktu kadang juga bekerja sama dengan setan agar memecah kami, awalnya mereka bilang akan saling bantu, namun sekarang mereka diam. Bahkan bisa diibaratkan jika ada orang yang meninggal didepan mata mereka, mungkin mereka hanya bisa berdoa tanpa mendekat untuk memastikan siapa yang meninggal, lalu? iya itu bisa diartikan tentang kepedulian, dengan kepedulian yang berkurang, bahkan doa dari ayat yang suci pun terasa seperti nyanyian saat setan menggoda.

   Masih sadarkah? entahlah yang bisa menyadarkan aku terutama adalah diri ini, bagaimana dengan timku? mungkin setan dan waktu yang bisa menyadarkan mereka, atau mungkin sama denganku setan adalah jawabannya untuk menyadarkanku. Semoga kesadaran bukan terletak pada objek, melainkan hati nurani, jika hati yang bersih dan percaya adanya Sang Maha Kuasa, maka setanpun engga mendekat apalagi mendekat untuk menyadarkan kita.

Semoga bisa dipermudah dalam perlakuan hingga akhir (CD'15)

Senin, 01 Februari 2016

Kesunyian yang berproses

     Awalnya aku merasa pertemuan menjadi hal yang baik untuk pertama kalinya, semua hal-hal positif memang terkumpul saat bertemu. Aku masih polos saat itu, masih belum tertulis dosa-dosa didalam hatiku, ya dosa-dosa muncul karena suatu prasangka. Kecantikan dan ketampanan dalam sekejap dapat menyihir ratusan bahkan ribuan orang hanya dalam sekejap, aku pun mengambil nafas yang panjang untuk bersiap mengetahui siapa orang yang menjadi teman baruku. Baru bukan selalu cocok dengan kita, baru bukan berarti ada hal yang akan membuat kita bersemangat, baru bukan berarti selalu memenuhi ekspetasi belaka. Akhirnya kita dipertemukan dalam satu lingkaran yang sudah dinanti satu hari sebelumnya. Kadang hati gusar tak karuan apakah akan ada cinta atau persahabatan akan tercipta ditengah kehirupikuk suara dalam ruangan itu. Kembali baru tidak berarti selalu baik dimata kita.

    Kadang persahabatan akan diukur dengan kesulitan, kesulitan bukan selalu bisa dihadapi bersama.. bersama menanggung semua masalah dan keadaan baik-baik saja saat itu, melainkan petir di siang bolong yang menggelegar di tengah keakraban! kesulitan kadang di uji oleh jarak, jarak entah puluhan, ratusan, ribuan bahkan tahun-tahun berganti begitu cepat, ya itu kesulitan persahabatan. 

     Memori manusia memang tebatas, disaat senang dia akan bernostalgia layaknya angin berhembus dengan semilir ketentraman, namun saat sedih/kecewa bagai ingatan yang mengeras, mengeras karena batu tidak bisa mengembang layaknya balon yang kemudian pecah jika kapasitas udaranya berlebihan, batu tetap batu, keras dan diam.. bergerak jika di gerakkan bukan bergerak karena keinginannya sendiri. Aku mungkin masih terlalu polos dalam memahami arti persahabatan, tapi apakah cinta sedemikian rumitnya? ya karena kita membicarakan cinta kita terhadap manusia, bukan kepada yang Maha Pencipta.

    Entahlah setiap orang punya prespsinya dalam mengartikan persahabatan maupun cinta, tapi apakah keduanya bisa melebur dalam keadaan yang sama? mungkin kebanyakan mengalaminya disisi lain juga tidak ada yang mengalaminya. Mungkin pepatah orang jawa berkata "Witing treno jalaran soko kulino" yang artinya "Cinta tumbuh karena terbiasa", pepatahnya mungkin bisa diabaikan oleh sebagian banyak orang, tapi sebagian lainnya? ya sependat dengan pepatah tersebut. Aku lagi-lagi polos dan masih tak berdosa, benih-benih prasangka belum muncul dan menunjukkan kenikmatannya pada diriku.

   Satu kali bertemu biasa, dua kali masih biasa, tiga kali? masih tidak memperhatikan kebiasaan dan perasaan masing-masing, akan tetapi jika sudah bersama? siapa yang tau akan ada benih prasangka yang tumbuh menjadi tunas dan tanaman kecil. Cinta terhadap manusia mungkin sebuah anugerah dan juga malapetaka bagi kita. Entah anugerah yang diberikan oleh-Nya atau oleh setan? atau malapetaka bagi kita karena Sang Maha Pencipta menjadi hal yang kedua dalam dicintai bukan yang pertama. 

    Kembali siang dan malam mulai berjaga silih berganti dalam berputarnya waktu yang aku jalani waktu itu, rasa senang, sedih, jengkel, kecewa dan bahagian tercampur aduk jadi satu makanan yang disebut persahabatan. Persahabatan atau cinta? lagi-lagi dosa itu pun akhirnya muncul ya, prasangka tersebut pun sekarang tumbuh menjadi pohon muda yang indah dipandang tapi lagi-lagi ketidaksabaran akan tumbuhnya pohon muda menjadi pohon yang bagus (gagah) selalu muncul dibenakku.

    Anugerah dari setan selalu dibumbui oleh kesenangan sesaat, berbeda dengan kesenangan yang diberikan-Nya pada setiap insan. Hidup bersama tidak selalu menyenangkan, bagaimana tidak bagai kisah yang ada pada salah satu Nabi, Nabi pun digoda oleh setan bagaimana dengan kita yang hanya manusia? godaan selalu luput, luput oleh ketentraman dan kenyamanan yang ada di depan mata. Kadang kesunyian malam memberikan kita pelajaran bahwa setiap ketentraman dan kenyamanan akan datang suatu hal yang terang perlahan-lahan dari kejauhan (waspada) akan bergantinya pagi menjadi siang yang mulai menggantikan peran malam sebelumnya, tapi apakah malam sebelumnya sama dengan malam ini? sungguh hati manusia mudah dibolak-balikan hatinya.

    Awalnya kita sepakat dan berjanji apapun akan selalu dihadapi, ah tapi lagi-lagi hati manusia mudah dibolak-balik, kesunyian yang terasa tentram pun mulai berproses akhirnya menjadi kesepian yang amat dalam jika kita tidak segera sadar akan proses tersebut. Memang dari awal menjadi omong kosong, berawal manis namun pada akhirnya setan yang tertawa sekarang. Tidak pernah kita ingat bagaimana rasanya pertemuan yang hangat dan senyum yang tulus, semua habis ditertawakan oleh setan, setan merasa bahwa persahabatan dan cinta tidak pernah sejalan, mengapa demikian? jika memang persahabatan dan cinta dimulai dengan ketulusan dan keikhlasan mengapa hal yang pernah dilakukan selalu diungkit dan mencari kebenaran masing-masing? memang setan seperti itu, dia mencarikan kebenerannya sendiri, bukan mencari yang memang itu kebenaran.

   Berawal manis, berakhir pahit.. tak banyak yang merasa demikian namun aku mulai berfikir, bagaimana mengalahkan setan agar aku menang? mungkin kembali berharap akan cinta-Nya dan apa yang selalu kita katakan "Lillahi ta'ala" bukan sebaliknya kita bilang "Lillahi ta'ala dan bergantung pada manusia juga".

    Hanya kata semoga dan berdoa, agar kesunyian berproses menjadi pagi dan siang, karenanya kita takkan pernah sadar bahwa terjebak dan bergerak berbeda makna, antara malam ini dan esok juga berbeda, semoga kita kembali kepada hati yang luluh akan dosa dan prasangka.

teruntuk "Bumi mina Tani"