Rabu, 11 Mei 2016

#Akhir

   Lihatlah keadaan, jangan memaksakan sesuatu sesuai kehendak hati, percaya bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

      Entah mengapa malam ini aku merasa terganggu, mungkin batin ini mengusik ketenanganku dalam dunia nyata. Apakah terganggu akan kerinduan atau sekedar rasa marah? mungkin kata "jarang" menjadi sangat sensitif saat melihat dengan mata ini, bisa jadi rasa marah melihat apa yang dirindukan nampaknya berbeda dari keadaan pertemuan untuk pertama kalinya. Apakah aku masih cinta kamu? sayang kamu? atau masih benar-benar benci melihat tingkahmu yang kadang sulit dicerna oleh otak yang sangat sangat maha canggih ini... perasaan selalu benar dan logika akan kalah dengannya. Aku harap kamu masih ingat, jika tidak biarkanlah itu menguap di panasnya matahari hingga kering tak berbekas.

        Tulus, sebenarnya itu yang aku maksud.. namun salahku tidak jelas menyampaikannya... ah sudahlah jangan salahkan keadaan saat itu, yang terpenting jika dia tulus maka ketulusanku akan dibalas, nyatanya? haha maaf aku terlalu buruk rupa dimatamu, dirimu melihat sesuatu hanya dari wajah nan berbulu ini, tidakkah kau bertanya terlebih dahulu pada hatiku? lagi, kenyataan bahwa perasaan akan menang dari logika, walaupun hati ini sudah benar-benar tulus.

           Marah kepadaNya, mengapa dia begitu mudah berucap dan naif melanggar ucapannya kepadaku? sedangkan semua yang dilakukan tidak padaku sangat manusiawi dibumbui dengan hawa nafsu dan benih setan untuk menarik kaum adam. Kembali berfikir bahwa Tuhan sedang memperlihatkan bahwa akhlakku masih buruk, sikapku sangat kasar dan menyadarkan bahwa diri ini harus berkaca, jika ingin rebut hatinya dekati setan!. Kadang ucapan mudah mengalir seperti air, air yang sebenarnya membawa manfaat banyak namun bisa juga kotor akibat diri sendiri yang mengotorinya.

             KitabMu? SunahMu? dan AmalanMu, kadang aku berfikir bahwa dia mencampur adukkan, kembali beralasan "Masih sebatas Wajar" atau "Manusiawi semua orang seperti itu kok", mungkin lebih tepatnya seperti tidak bisa melawan hati ini "Perasaan itu engga bisa dibohongi". Mulut dan lidah memang terletak dalam satu tempat, namun perlu disadari hati (perasaan) letaknya jauh dari keduanya lebih berbahaya lagi jika kita tahu bahwa nafsu berada pada titik antara hati (perasaan) dan lidah.

       Setan berbisik kepadaku, "Apakah kamu tidak ingin lebih dari ini, setelah dia dekat denganmu?" sejenak aku terdiam, hati dan otak sama sama sependapat bahwa ada rasa nyaman yang akan didapat jika dia jadi milikku aku akan sangat beruntung. Setan satu-satunya jembatan untuk meraih kesenangan sesaat untuk dunia, kadang ada bumbu surgawi yang diselipkan tapi wajar-wajar saja karena hati (perasaan) tidak pernah salah, yang salah adalah Tuhan yang kadang tidak memihak anak cucu adam dan hawa.

       Sejenak termenung, pikiran-pikiran kotor dan menjijikan itu tiba-tiba merasuk kedalam pikiranku... mencoba untuk menjauhi namun kembali lagi, siapapun dia seorang ahli ibadah dan berilmu pun jika tidak waspada setan masuk ke dalam hati(perasaan)nya. Teringat tentang sebuah pemandangan alam yang indah saat mengindahkan pikiran kotor nan jijik itu, pemandangan yang menurutku hanya bisa dinikmati dan dirasakan hanya saat kamu adalah orang pertama. Memang benar adanya pemandangan itu akan dinikmati banyak khalayak, akan tetapi pemandangan itu tidak lagi asri melainkan sudah penuh dengan polusi dan campur tangan khalayak, huh kasihan pemandangan itu, sudah dinikmati banyak khalayak, rusak pula.

          Melihatmu seperti pemandangan alam yang indah asri dan nyaman membuatku merasa bahwa aku orang pertama yang bisa menikmati ini sendiri, suasana dan keadaannya masih sangat indah untuk dikenang, namun tidak akan bisa diulang untuk kedua, ketiga dan seterusnya. Akan berbeda jika kamu tetap seperti waktu pertama kali aku menemukanmu, ingat bahwa Tuhan menciptakan keindahan bukan untuk dimiliki sendiri, melainkan dinikmati bersama Makhluk CiptaanNya. Aku tersadar akan hal itu, namun juga pasrah bahwa pemandangan alam itu tidak bisa kumiliki jika hanya aku tidak merawatnya, sesuatu harus dirawat dan dijaga (kasih sayang) tanpa itu aku tidak bisa memilikinya. Berusaha adalah kuncinya, berusaha merawat dan memperhatikannya jika tidak maka orang lain yang akan melakukan tugas itu. hihi Tuhan adil, Dia akan selalu memberikan sesuatu pada yang berhak, jika tidak berhak maka jangan pernah kecewa terhadapNya, melainkan bersyukurlah dan meminta taubat agar doa-doa ini selalu didengarNya dan menjadi tentram dihati ini. :D

Selasa, 03 Mei 2016

Rindu

       Apakah diantara kalian ada yang merasa merindu? nampaknya pagi ini banyak sekali rindu bertebaran dilangit yang masih jauh dari kata biru. Sang fajar nampaknya masih bertahan di tempatnya, istirahat mungkin? atau sibuk dengan pekerjaannya dibelahan bumi lain. Aku merindu, entah merindu kepada siapa, kamu? atau kedua orang tuaku? atau apakah aku merindu kepada Tuhanku? nampaknya jalan yang terik dan hawa panas membuatku sadar bahwa saat itu akupun rindu akan datangnya angin semilir datang kepadaku. Rindu seperti angin semilir dikala terik matahari dan hawa panas yang menyengat.. huuu panas dan keringat bercucuran, entah sudah berapa tetesan jatuh di tanah, atau bisa jadi aku menginginkan air untuk aku minum karena kehausan bukan angin semilir. Entahlah aku harus membutuhkan keduanya secara bersamaan atau satu persatu datang lalu aku merasa puas akan hilangnya rasa peluh ini.

       Angin semilir kemudian menjawab apa yang aku minta, nampaknya aku memang membutuhkan angin semilir ini daripada air untuk penghilang rasa dahaga. Oleh bapak yang setia menemani aku menyusuri pematang tambak yang jaraknya jauh, jalan berliku dan tanpa adanya sang peneduh untuk menghalangi terik matahari. Rasanya jauh tempat yang ingin aku singgahi.. aku pun membatin apakah aku akan sampai dengan keringat atau perasaan senang? mungkin Tuhan masih baik dengan diriku, Dia memberikan aku sebuah kemudahan dalam menyusuri jalan tersebut dengan fasilitas motor yang dikendarai oleh bapak yang masih setia menemaniku. Lalu kedua temanku terpaksa jalan untuk mencapai tempat tujuan kami, adilkah? nampaknya Tuhan selalu adil dalam rencanaNya. Beban berat barang yang berlebih dimandatkan kepadaku, sedangkan temanku memikul barang tersebut dengan ringan. Nampaknya aku merindukan angin semilir yang ada di pematang tambak yang selama ini tidak aku dapatkan. Bagaimana dengan kedua temanku? angin semilir atau air untuk menghilangkan rasa hausnya?

      Teringat kembali akan perjalanan siang tadi di pematang tambak yang sangat terik dan panas, peluh dan keluh tercurah saat disana namun diriku sudah berada di dalam kendaraan yang angin semilir masih menemaniku dengan setia dan rasa haus yang ikut serta dalam perjalanan pulang kami bertiga. Padahal sebentar aku merasakan jalan tersebut namun sudah rindu akan perasaan yang terjadi saat itu, mungkin orang akan merasa berbeda dengan apa yang aku rasakan apakah menyenangkan atau menyesal? haha hanya rasa syukur yang menjawabnya. 

        Kembali aku bertanya apakah yang sedang kurindukan saat perjalanan pulang... dirimu? orang tuaku? apakah pekerjaan ini yang kurindukan segera berakhir? nampaknya semua hanya ada dalam pikiran kosong yang terbawa angin semilir. Rindu bukan sesuatu yang salah pada diri manusia, apakah dia merasa rindu akan kejadian kemarin atau masa lalu, mungkin kah kita merindukan sesuatu untuk masa depan? iya rindu siapa yang akan menjadi pasangan yang akan bersanding. Rasanya rindu ini makin melekat namun bisa jadi rindu ini menjauh. Aku merindukan seseorang yang akan selamanya menemaniku dikala susah dan senang dalam sepenanggungan hidup ini. Hanya Tuhan yang mengetahui rindu kita akan berlabuh suatu hari nanti. 
       
       Rindu bukan sesuatu yang bisa dipersiapkan namun datang secara perlahan dan licik dikala kita tidak membutuhkannya. Seseorang yang akan datang bisa jadi memang sangat dekat, mungkin dia adalah rekan kerjamu, teman mainmu, teman berbagi ilmu, teman makan, teman sekolahmu ataupun teman di dalam aktivitasmu. Percaya Tuhan bukan sengaja bermain dengan rindu, melainkan kita yang memainkannya. Tuhan memberimu banyak kesempatan untuk menjemput rindu bukan untuk sengaja untuk menghapus rindu tersebut. Maka jika kamu merindu begitu pun aku merindukanmu.. mari kita sama-sama menjemput rindu itu dengan berdoa agar Tuhan menyatukan rindu kita berdua dalam do'a.