Awalnya aku merasa pertemuan menjadi hal yang baik untuk pertama kalinya, semua hal-hal positif memang terkumpul saat bertemu. Aku masih polos saat itu, masih belum tertulis dosa-dosa didalam hatiku, ya dosa-dosa muncul karena suatu prasangka. Kecantikan dan ketampanan dalam sekejap dapat menyihir ratusan bahkan ribuan orang hanya dalam sekejap, aku pun mengambil nafas yang panjang untuk bersiap mengetahui siapa orang yang menjadi teman baruku. Baru bukan selalu cocok dengan kita, baru bukan berarti ada hal yang akan membuat kita bersemangat, baru bukan berarti selalu memenuhi ekspetasi belaka. Akhirnya kita dipertemukan dalam satu lingkaran yang sudah dinanti satu hari sebelumnya. Kadang hati gusar tak karuan apakah akan ada cinta atau persahabatan akan tercipta ditengah kehirupikuk suara dalam ruangan itu. Kembali baru tidak berarti selalu baik dimata kita.
Kadang persahabatan akan diukur dengan kesulitan, kesulitan bukan selalu bisa dihadapi bersama.. bersama menanggung semua masalah dan keadaan baik-baik saja saat itu, melainkan petir di siang bolong yang menggelegar di tengah keakraban! kesulitan kadang di uji oleh jarak, jarak entah puluhan, ratusan, ribuan bahkan tahun-tahun berganti begitu cepat, ya itu kesulitan persahabatan.
Memori manusia memang tebatas, disaat senang dia akan bernostalgia layaknya angin berhembus dengan semilir ketentraman, namun saat sedih/kecewa bagai ingatan yang mengeras, mengeras karena batu tidak bisa mengembang layaknya balon yang kemudian pecah jika kapasitas udaranya berlebihan, batu tetap batu, keras dan diam.. bergerak jika di gerakkan bukan bergerak karena keinginannya sendiri. Aku mungkin masih terlalu polos dalam memahami arti persahabatan, tapi apakah cinta sedemikian rumitnya? ya karena kita membicarakan cinta kita terhadap manusia, bukan kepada yang Maha Pencipta.
Entahlah setiap orang punya prespsinya dalam mengartikan persahabatan maupun cinta, tapi apakah keduanya bisa melebur dalam keadaan yang sama? mungkin kebanyakan mengalaminya disisi lain juga tidak ada yang mengalaminya. Mungkin pepatah orang jawa berkata "Witing treno jalaran soko kulino" yang artinya "Cinta tumbuh karena terbiasa", pepatahnya mungkin bisa diabaikan oleh sebagian banyak orang, tapi sebagian lainnya? ya sependat dengan pepatah tersebut. Aku lagi-lagi polos dan masih tak berdosa, benih-benih prasangka belum muncul dan menunjukkan kenikmatannya pada diriku.
Satu kali bertemu biasa, dua kali masih biasa, tiga kali? masih tidak memperhatikan kebiasaan dan perasaan masing-masing, akan tetapi jika sudah bersama? siapa yang tau akan ada benih prasangka yang tumbuh menjadi tunas dan tanaman kecil. Cinta terhadap manusia mungkin sebuah anugerah dan juga malapetaka bagi kita. Entah anugerah yang diberikan oleh-Nya atau oleh setan? atau malapetaka bagi kita karena Sang Maha Pencipta menjadi hal yang kedua dalam dicintai bukan yang pertama.
Kembali siang dan malam mulai berjaga silih berganti dalam berputarnya waktu yang aku jalani waktu itu, rasa senang, sedih, jengkel, kecewa dan bahagian tercampur aduk jadi satu makanan yang disebut persahabatan. Persahabatan atau cinta? lagi-lagi dosa itu pun akhirnya muncul ya, prasangka tersebut pun sekarang tumbuh menjadi pohon muda yang indah dipandang tapi lagi-lagi ketidaksabaran akan tumbuhnya pohon muda menjadi pohon yang bagus (gagah) selalu muncul dibenakku.
Anugerah dari setan selalu dibumbui oleh kesenangan sesaat, berbeda dengan kesenangan yang diberikan-Nya pada setiap insan. Hidup bersama tidak selalu menyenangkan, bagaimana tidak bagai kisah yang ada pada salah satu Nabi, Nabi pun digoda oleh setan bagaimana dengan kita yang hanya manusia? godaan selalu luput, luput oleh ketentraman dan kenyamanan yang ada di depan mata. Kadang kesunyian malam memberikan kita pelajaran bahwa setiap ketentraman dan kenyamanan akan datang suatu hal yang terang perlahan-lahan dari kejauhan (waspada) akan bergantinya pagi menjadi siang yang mulai menggantikan peran malam sebelumnya, tapi apakah malam sebelumnya sama dengan malam ini? sungguh hati manusia mudah dibolak-balikan hatinya.
Awalnya kita sepakat dan berjanji apapun akan selalu dihadapi, ah tapi lagi-lagi hati manusia mudah dibolak-balik, kesunyian yang terasa tentram pun mulai berproses akhirnya menjadi kesepian yang amat dalam jika kita tidak segera sadar akan proses tersebut. Memang dari awal menjadi omong kosong, berawal manis namun pada akhirnya setan yang tertawa sekarang. Tidak pernah kita ingat bagaimana rasanya pertemuan yang hangat dan senyum yang tulus, semua habis ditertawakan oleh setan, setan merasa bahwa persahabatan dan cinta tidak pernah sejalan, mengapa demikian? jika memang persahabatan dan cinta dimulai dengan ketulusan dan keikhlasan mengapa hal yang pernah dilakukan selalu diungkit dan mencari kebenaran masing-masing? memang setan seperti itu, dia mencarikan kebenerannya sendiri, bukan mencari yang memang itu kebenaran.
Berawal manis, berakhir pahit.. tak banyak yang merasa demikian namun aku mulai berfikir, bagaimana mengalahkan setan agar aku menang? mungkin kembali berharap akan cinta-Nya dan apa yang selalu kita katakan "Lillahi ta'ala" bukan sebaliknya kita bilang "Lillahi ta'ala dan bergantung pada manusia juga".
Hanya kata semoga dan berdoa, agar kesunyian berproses menjadi pagi dan siang, karenanya kita takkan pernah sadar bahwa terjebak dan bergerak berbeda makna, antara malam ini dan esok juga berbeda, semoga kita kembali kepada hati yang luluh akan dosa dan prasangka.
teruntuk "Bumi mina Tani"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar