Sebelum anda membacanya, pahami secara kontekstual bahwasannya saya sebagai penulis hanya ingin mengekspresikan sebuah perasaan dan hanya hiburan semata :)
Pada suatu hari di sebuah ruko pinggir jalan, ada satu pemuda yg dari jauh aku perhatikan dia menarik, lalu aku datangi dia dan bertanya,
"Apa yg membuatmu tetap di pingir jalan dari tadi?" Tanyaku
"Maaf apakah anda tuhan?" Tanya dia
Dalam hati aku tersentak, gila pemikiran orang ini baru bertemu sudah ditanya apakah tuhan atau tidak. Lalu aku jawab pertanyaan pemuda tersebut dengan kebenaran.
"Sebetul saya hanya hamba tuhan, bukan tuhan" jawabku singkat
"Aku percaya bahwa dirimu adalah tuhan, bukan yang lain!"tegas dia
Aku semakin keheranan dengan pernyataan anak muda ini, kemudian aku mengajak dia untuk duduk di kedai terdekat untuk melanjutkan perbincangan dan meluruskan pemikiran pemuda tersebut.
"Mohon maaf mas sebelumnya, saya hanya manusia biasa dan saya rasa perkataan mas membuat saya bingung, dan mengapa mas yakin bahwa saya adalah "tuhan". Padahal hakikat Ketuhanan bukan bisa dibahas dengan logika saja namun secara ruhani" jawabku
"Mestinya tuhan tidak menanyakan kembali tentang ketuhanannya, justru orang lain bisa melihatnya dengan sadar, lagi pula mas baik dengan saya padahal saya orang asing" jawab dia penuh kesal.
Entah harus marah atau tertawa disaat ini, namun menjadi penasaran dengan pemuda ini. Pikirku lebih baik bahas topik lain atau terus menjawab semua pertanyaanya dengan rasional, tapi akan makin dalam dia menyakini kesesatan dalam pemikirannya. Ah mungkin aku terlalu bodoh berfikir bahwa dia orang gila!.
"Maaf mas saya bukan tidak mau menjawab, namun itu diluar dari pertanyaan yg bisa jawab karena sifatnya pasti dan kekal. Maaf sebelumnya apakah anda muslim atau tidak mas?" Sambungku
"Hahaha anda ini bagaimana sih, wong kalo ditanya harusnya dijawab bukan di hindari. Saya tidak beragama mas dan lagi pula saya memahami semua dari Alam semesta ini" jawabnya dengan mantap
Hmm dalam kondisi ini dia bertanya apakah diriku tuhan atau bukan namun dalam sisi lain dia tidak beragama (tidak bertuhan), agak sulit mencerna suatu pertanyaan yg memang terlihat bodoh dan tidak berbobot namun penuh penyesatan didalamnya, apakah perlu dijawab dengan sebuah buku pedoman (ilmu agama) atau secara logika dan rasional. Hmm sulit namun harus di luruskan.
"Baik kalo seperti itu mas, bagaimana sebelum saya jawab saya bertanya lebih dahulu ke masnya. Jika saya tuhan apakah mas akan percaya dengan semua perkataan saya?" Tanyaku ke pemuda itu
Pemuda itu menunjukkan sebuah kegelisahan di raut wajahnya. Secara tergagap pemuda itu menjawab.
"Ya...yaa, saya akan percaya dengan semua perkataanmu" jawabnya
"Kalo begitu, bagaimana jika saya memerintahkan anda untuk merampok bank sekarang juga dan nanti hasilnya dibagi dua dengan saya, apakah mas mau melakukannya?" Tanyaku penuh semangat
"Tidak! Sudah jelas itu melanggar hukum dan merugikan banyak orang termasuk diri saya. Wah anda ini orang tersesat ya! Sudah kalo begitu saya lebih baik pergi saja" jawabnya penuh kesal
"Baik kalo masnya sudah sadar bahwa hakikat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan manusia, apalagi sifat dari tuhan tersebut disandingkan dengan manusia" jawabku pelan
Setelah mendengar jawaban dariku pemuda tersebut pergi dan sambil menunjukkan kekesalan maupun kekecewaan dia terhadapku. Lalu temanku yg memerhatikan dari jauh datang menghampiri dan bertanya.
"Siapa bro dia?" Tanya temanku
"Ada orang tersesat tapi dikasih petunjuk ga mau dengerin sob hehe" jawabku seringai
"Hahaha ada-ada aja lu bro, orang gila lu tanggepin" sambil tertawa dan berlalu
Pada dasarnya semua yg beragama memiliki keyakinannya masing2, sebagai hamba yang bersaudara saling mengingatkan dan menghormati atas agama dan keyakinannya, namun bila ada hamba yg selalu berkata benar atas apa yg dilakukan dan orang lain yg beragama dianggap salah sampai2 memfitnah dan menyesatkan maka dia telah berdusta pada dirinya, karena setiap manusia bukan menjadi makhluk yg menyebar kebencian dan merusak alam namun menjaganya serta memeliharanya. Satu hal yg perlu kita ketahu bahwasannya tuhan maha tahu apa yang dilakukan hambanya.
Pada suatu hari di sebuah ruko pinggir jalan, ada satu pemuda yg dari jauh aku perhatikan dia menarik, lalu aku datangi dia dan bertanya,
"Apa yg membuatmu tetap di pingir jalan dari tadi?" Tanyaku
"Maaf apakah anda tuhan?" Tanya dia
Dalam hati aku tersentak, gila pemikiran orang ini baru bertemu sudah ditanya apakah tuhan atau tidak. Lalu aku jawab pertanyaan pemuda tersebut dengan kebenaran.
"Sebetul saya hanya hamba tuhan, bukan tuhan" jawabku singkat
"Aku percaya bahwa dirimu adalah tuhan, bukan yang lain!"tegas dia
Aku semakin keheranan dengan pernyataan anak muda ini, kemudian aku mengajak dia untuk duduk di kedai terdekat untuk melanjutkan perbincangan dan meluruskan pemikiran pemuda tersebut.
"Mohon maaf mas sebelumnya, saya hanya manusia biasa dan saya rasa perkataan mas membuat saya bingung, dan mengapa mas yakin bahwa saya adalah "tuhan". Padahal hakikat Ketuhanan bukan bisa dibahas dengan logika saja namun secara ruhani" jawabku
"Mestinya tuhan tidak menanyakan kembali tentang ketuhanannya, justru orang lain bisa melihatnya dengan sadar, lagi pula mas baik dengan saya padahal saya orang asing" jawab dia penuh kesal.
Entah harus marah atau tertawa disaat ini, namun menjadi penasaran dengan pemuda ini. Pikirku lebih baik bahas topik lain atau terus menjawab semua pertanyaanya dengan rasional, tapi akan makin dalam dia menyakini kesesatan dalam pemikirannya. Ah mungkin aku terlalu bodoh berfikir bahwa dia orang gila!.
"Maaf mas saya bukan tidak mau menjawab, namun itu diluar dari pertanyaan yg bisa jawab karena sifatnya pasti dan kekal. Maaf sebelumnya apakah anda muslim atau tidak mas?" Sambungku
"Hahaha anda ini bagaimana sih, wong kalo ditanya harusnya dijawab bukan di hindari. Saya tidak beragama mas dan lagi pula saya memahami semua dari Alam semesta ini" jawabnya dengan mantap
Hmm dalam kondisi ini dia bertanya apakah diriku tuhan atau bukan namun dalam sisi lain dia tidak beragama (tidak bertuhan), agak sulit mencerna suatu pertanyaan yg memang terlihat bodoh dan tidak berbobot namun penuh penyesatan didalamnya, apakah perlu dijawab dengan sebuah buku pedoman (ilmu agama) atau secara logika dan rasional. Hmm sulit namun harus di luruskan.
"Baik kalo seperti itu mas, bagaimana sebelum saya jawab saya bertanya lebih dahulu ke masnya. Jika saya tuhan apakah mas akan percaya dengan semua perkataan saya?" Tanyaku ke pemuda itu
Pemuda itu menunjukkan sebuah kegelisahan di raut wajahnya. Secara tergagap pemuda itu menjawab.
"Ya...yaa, saya akan percaya dengan semua perkataanmu" jawabnya
"Kalo begitu, bagaimana jika saya memerintahkan anda untuk merampok bank sekarang juga dan nanti hasilnya dibagi dua dengan saya, apakah mas mau melakukannya?" Tanyaku penuh semangat
"Tidak! Sudah jelas itu melanggar hukum dan merugikan banyak orang termasuk diri saya. Wah anda ini orang tersesat ya! Sudah kalo begitu saya lebih baik pergi saja" jawabnya penuh kesal
"Baik kalo masnya sudah sadar bahwa hakikat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan manusia, apalagi sifat dari tuhan tersebut disandingkan dengan manusia" jawabku pelan
Setelah mendengar jawaban dariku pemuda tersebut pergi dan sambil menunjukkan kekesalan maupun kekecewaan dia terhadapku. Lalu temanku yg memerhatikan dari jauh datang menghampiri dan bertanya.
"Siapa bro dia?" Tanya temanku
"Ada orang tersesat tapi dikasih petunjuk ga mau dengerin sob hehe" jawabku seringai
"Hahaha ada-ada aja lu bro, orang gila lu tanggepin" sambil tertawa dan berlalu
Pada dasarnya semua yg beragama memiliki keyakinannya masing2, sebagai hamba yang bersaudara saling mengingatkan dan menghormati atas agama dan keyakinannya, namun bila ada hamba yg selalu berkata benar atas apa yg dilakukan dan orang lain yg beragama dianggap salah sampai2 memfitnah dan menyesatkan maka dia telah berdusta pada dirinya, karena setiap manusia bukan menjadi makhluk yg menyebar kebencian dan merusak alam namun menjaganya serta memeliharanya. Satu hal yg perlu kita ketahu bahwasannya tuhan maha tahu apa yang dilakukan hambanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar